ANDA DAPAT 2-5 juta TIAP HARI KLIK http://www.uangbalik.in/?id=37354043

Tampilkan postingan dengan label jutawan sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jutawan sejati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2013

Rahasia Dikabulkan Doa



 
Orang yang tidak mau berdoa kepada Allah adalah orang yang takabur. Padahal, ia memiliki banyak kelemahan dan berbagai kebutuhan yang tidak mung kin bisa dipenuhinya sendiri, melainkan berharap datangnya pertolongan Allah SWT.

Doa merupakan satu permohonan dan pujian dalam bentuk ucapan dari hamba yang rendah kedudukannya kepada Rabb Yang Maha Tinggi. Dalam satu riwayat dikemukakan, “Allah SWT sangat murka kepada orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya.” (HR. Ibnu Majah).
Oleh karena itu, merupakan keinginan setiap hamba terkabulnya segala permohonannya setiap kali berdoa. Akan tetapi, tidak setiap doa akan Allah terima karena ada syarat-syarat tertentu, baik anjuran yang harus dipenuhi maupun larangan yang harus dijauhi ketika berdoa. Dan di antara syarat terkabul nya doa adalah orang yang berdoa itu harus bersih dari konsumsi berbagai barang haram.

Diriwayatkan bahwa pernah suatu ketika sahabat Sa’ad bin Abi Waqas meminta kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulul lah! Berdoalah kepada Allah supaya Dia menjadikan aku sebagai orang yang selalu dikabulkan bila berdoa.”

Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Sa’ad! Bersihkan dulu perutmu (dari konsumsi barang haram) pasti engkau menjadi orang yang selalu terkabul doamu. Demi Allah, orang yang menelan sekepal saja barang haram di perutnya, doanya tidak akan diterima selama 40 hari 40 malam. Dan siapa saja yang badannya tumbuh dari barang haram serta riba maka nerakalah yang lebih pantas menerimanya.” (HR. Ibnu Mardawaih).

Salah satu hikmah puasa adalah kebersihan perut dari berbagai konsumsi makanan dan minuman yang haram. Ini karena tak akan berarti bila seseorang berpuasa, namun mengkonsumsi barang haram atau mengambil hak orang lain saat berbuka atau bersahur.

Jangankan yang haram atau hak orang lain. barang yang halal dan sah menjadi miliknya pun tidak sebebas itu dalam mengkonsumsinya sepanjang ia berpuasa Ramadhan ini. Ada waktu ia menghindari semua yang halal dan sah tersebut, tetapi ada waktu lain yang melarangnya mengkonsumsinya.

Dengan kondisi seperti ini, amat pantas jika Rasulullah SAW menyebut orang yang berpuasa (shaum) merupakan salah satu dari tiga golongan yang tidak akan ditolak doanya.

Sabda Rasul, “Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak doanya. Pemimpin yang adil. orang yang shaum hingga ia berbuka dan orang yang dizalimi.” (HR. AT-Tirmidzi).

Khusus menyangkut orang yang berpuasa. Rasulullah SAW mengingatkan adanya satu waktu yang tak tertolak segala doa dan permintaan seorang hamba kepada Sang Khalik. Waktu itu adalah detik-detik saat berbuka tiba.

Nabi SAW pernah bersabda, “Bagi orang yang berpuasa (shaum) ketika akan berbuka, ada satu waktu yang apabila ia berdoa pasti doanya dikabulkan.” (HR. Abu Dawud).

Oleh karena itu sudah selayaknyalah kita berhati-hati jangan sampai secara sengaja ataupun tidak, kita mengkonsumsi barang-barang haram yang berakibat doa kita akan terhalang.

Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berdeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. 
 Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain.

1. Sepertiga Akhir Malam
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda. Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Abi ‘Ashim)
2. Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra. bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda. Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak ditolak. ( HR. Ibnu Majah dan Hakim )
3. Setiap Selepas Shalat Fardhu
Dari Abu Umamah ra, sesungguhnya Rasulullah saw ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah swt, beliau menjawab. Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu. (HR. Tirmidzi)
4. Pada Saat Adzan dan Perang Berkecamuk
Dari Sahl bin Sa’ad ra, bahwa Rasulullah saw bersabda. Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk”. (HR. Abu Daud, Al-Baihaqi dan Hakim)
Dari Abdullah bin Amar bin Ash ra, bahwa ia mendengar Nabi saw bersabda: “Jika kalian mendengar orang yang adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan dan bershalawatlah untukku karena barangsiapa yang bershalawat untukku sekali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah (kedudukan mulia di surga) untukku, karena ia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan aku berharap semoga akulah hamba itu, maka barangsiapa yang memohon untukku wasilah itu, maka ia berhak mendapatkan syafa’at.” (HR. Muslim )
Dari Jabir Bin Abdillah ra. bahwa Rasul saw bersabda:
Barang siapa yang mengatakan setelah mendengar seruan adzan -“Ya Allah! Tuhan pemilik adzan yang sempurna ini dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah dan fadhilah dan bangkitkanlah ia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan untuknya- halallah ia mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat”. ( HR. Bukhari )
5. Sesaat Pada Hari Jum’at
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Abul Qasim saw bersabda. Sesungguhnya pada hari Jum’at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut”. ( HR. Muttafaqun Alaihi )
Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203. Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum’at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.
6. Bangun Malam, Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan Berdzikir Kepada Allah
Dari Muad bin Jabal ra, bahwa Rasulullah saw bersabda. Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya”. ( HR. Ibnu Majah )
Terbangun tanpa sengaja pada malam hari. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190) Yang dimaksud dengan “ta’ara minal lail” terbangun dari tidur pada malam hari.
7. Doa Diantara Adzan dan Iqamah
Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda. Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah”. ( HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi )
8. Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat
Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda. Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan”. ( HR. Muslim )
Dalam riwayat lain.
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: Yang paling dekat seorang hamba pada Rabbnya ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah kalianlah berdoa. (HR. Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ahmad)
Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan doa kamu.
9. Doa Pada Malam Lailatul Qadar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”. ( Qs. Al-Qadr 97: 3-5 )
Imam Asy-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. (Tuhfatud Dzakirin hal. 56)
10. Doa Pada Hari Arafah
Dari ‘Amr bin Syu’aib ra, dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi saw bersabda. Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah”. ( HR. At-Tirmidzi )
Dalam kehidupan ini, kita tentu berharap keinginan kita terkabulkan. Untuk itu kita bekerja keras dan berusaha untuk mewujudkannya. Untuk mencapai ke tujuan atas keinginan kita itu, mungkin kita mesti bangun pagi, mulai bekerja dan bahkan seringkali pulang malam. Semuanya agar mimpi dan cita kita terkabulkan. Namun, kita juga mesti menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha, selebihnya kita serahkan kepada Alloh Swt. Salah satunya dengan berdoa agar keinginan-keinginan kita terkabulkan. 
Lantas, bagaimana agar doa selalu dikabulkan?
Alloh Swt Berfirman:



Kita mesti yakin kepada janji Alloh tersebut. Apabila kita berusaha memenuhi perintahnya, beriman dan selalu berada dalam kebenaran, insyalloh ketika kita berdoa, pasti akan dikabulkan baik cepat atau lambat.

Dalam sebuah hadis Qudsi Rasulullulah berkata:

“Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.”


Untuk itu agar doa selalu dikabulkan penuhi adab-adab doa semisal dilakukan dengan khusuk, pelan-pelan, tidak dengan teriak-teriak.  Atau dengan memilih waktu-waktu yang Alloh menjanjikan doa-doa terkabulkan, misalnya pada waktu tengah malam.
Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagian dari malam ada waktu yang apabila seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dan sesuai dengan waktu itu, pasti Allah mengabulkannya.” Imam Ahmad menambah: “Itu terjadi di setiap malam.”

Selain itu, doa yang insyalloh dikabulkan Alloh Swt adalah ketika kita sedang melakukan sujud, ketika azan dikumandangkan atau antara azan dan iqomat. Cobalah dengan melakukan doa pada waktu-waktu itu.


Rasululullah bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. dan Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana yang diperintahkan kepada para rosul. beliau membaca, "Wahai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." dan membaca, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." kemudian beliau menyebutkan seseorang yang bepergian jauh, kucel dan acak-acakan, mengetadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, "Ya Robb, ya Robb." sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan memakan barang yang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan?!" (HR Muslim)
YANG LEBIH OKE ANDA KLIK DISINI



Rahasia Kematian dan Kehidupan Manusia



 
Kematian adalah perjalanan yang pasti dilalui oleh semua manusia. Mereka tidak bisa menghindarinya. Allah swt berfirman: " Tiap−tiap yang berjiwa pasti mati..." (QS 3:185). 

Perjalanan yang pasti dilalui itu mengisyaratkan kepada kita bahwa diri kita diselimuti berbagai rahasia dan misteri. Sampai hari ini, ilmu pengetahuan belum dapat memahami esensi kehidupan dan kematian. Allah swt menisbatkan mati dan hidup kepada Diri−Nya dalam berbagai ayat Al−Quran Al−Karim: "Yang menjadikan mati dan hidup..." (QS 67:2).


Ilmu pengetahuan sampai saat ini belum dapat membedakan secara akurat antara sel−sel hidup dan sel−sel mati. Sel−sel hidup membangkitkan kegiatan kehidupan, sedangkan sel−sel kematian tidak mampu membangkitkannya; tetapi secara lahiriah perbedaan itu tidak dapat diketahui sebabnya. Padahal sebenarnya kedua jenis sel itu sama materi dan strukturnya. Keduanya terdiri atas kalsium, ferum, dan hidrogen. Hanya saja sel−sel hidup mampu membangkitkan kegiatan yang dahsyat yang tidak mampu dilakukan oleh sel−sel mati. Sel−sel hidup itu pun tidak akan mati sampai terhentinya kegiatan kehidupan yang didukungnya. Anehnya, ketika kehidupan terhenti sel−sel itu juga tidak berkurang strukturnya sama sekali. 

Surat kabar Iththila'at di Iran, edisi 10160, pernah menulis tentang komentar pertemuan ilmiah yang diadakan untuk mengkaji seputar masalah tersebut:
"Setelah seribu tahun yang akan datang, manusia akan dapat mengungkapkan misteri kehidupan, tetapi bukan berarti bahwa manusia akan dapat menciptakan lalat, serangga, ataupun sel−sel hidup. Objek kajian seperti itu ditegaskan oleh para ilmuwan pada seminar dengan topik Darwin. Pada akhir seminar itu, seorang profesor dari Amerika, Hans, mengumumkan bahwa pada seribu tahun yang akan datang, para ilmuwan akan dapat mencurahkan perhatiannya untuk mengungkap misteri kehidupan."


Ada juga upaya−upaya yang bagus untuk menghilangkan ketuaan pada diri seseorang dan memanjangkan umur manusia sebatas yang bisa dilakukan. Sayangnya, setiap kajian yang dilakukan untuk memperpanjang umur manusia hanya berkisar pada pencegahan penyakit dan pengobatannya, baik yang menyangkut penyakit saraf maupun penyakit jiwa. Akan tetapi, semua kajian itu sama sekali tidak dapat mengusik−usik pengaruh perilaku manusia terhadap panjang umurnya, atau pengaruh dosa terhadap berkurangnya umur. Semua itu kembali kepada perilaku ilmu pengetahuan itu sendiri yang membatasi dirinya hanya pada tabung−tabung penelitian, kajian sebab−akibat yang sifatnya material, dan mengabaikan semua hal yang tidak masuk ke dalam kerangka inderawi dan percobaan yang berdasarkan sebab−akibat tersebut. Akibat kerangka pemikiran yang sempit itu, hubungan sebab−akibat yang non−material tidak dapat dipahami dan tidak masuk akal. Misalnya, hubungan antara kebohongan dan memutuskan silaturahim dengan berkurangnya umur. Begitu pula hubungan antara kejujuran dan silaturahim dengan panjangnya umur. Hubungan sebab−akibat seperti itu tidak mungkin masuk dalam kerangka uji−coba penelitian material, karena hubungan tersebut berkaitan dengan hal−hal gaib yang disampaikan kepada kita melalui hadis−hadis yang bersumber dari wahyu Ilahi.

Patut disebutkan juga di sini bahwa para ilmuwan mengakui kesempitan jangkauan ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari kerangka inderawi dan percobaan sebab−akibat material. Mereka menyatakan bahwa dunia yang mereka ketahui melalui indera dan percobaan berdasarkan sebab−akibat materialistik adalah kecil, bahkan sangat kecil dibandingkan dengan alam lain yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Sayangnya esensi alam itu belum bisa dijangkau oleh berbagai uji coba tersebut.

Maurice Materlink, seorang ilmuwan Eropa, yang dikatakan sebagai Socrates−nya zaman modern ini walaupun nilainya masih jauh di bawah Socrates sendiri, ia mengatakan: "Saya ingin mengulangi perkataan saya lagi bahwasanya saya tidak mengetahui sesuatu pun. Saya ulangi sekali lagi bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui sesuatu. Jika ada seseorang yang mengetahui sesuatu pasti dia akan memberitahukannya kepada manusia yang lain, dan semua orang pasti mengetahui dirinya serta memahami rahasia penciptaan alam ini. Dari sini dapat kita pahami bahwa rahasia penciptaan, rahasia−rahasia alam semesta dan akhirnya, hanyalah Tnerupakan hasil rekaan yang terbersit dalam benak kita. Atas dasar itu, kita membangun teori−teori yang berkaitan dengan masalah tersebut, di mana teori−teori tersebut akan terus dipakai selama belum diketahui adanya kekurangan dalam teori itu. Apa yang saya katakan tentang persoalan ini pun adalah hasil pemikiran saya sendiri dan saya pun tidak mengklaim bahwa yang saya katakan adalah benar. Jika ada seseorang di dunia ini yang mengakui kebenaran perkataannya mengenai rahasia penciptaan alam ini, maka kita perlu melihat sejauh mana kebenaran pengakuannya." (Dunya Dekar, hlm 5)

Arbery, seorang ilmuwan Inggris, mengatakan: "Pengetahuan kita bagaikan setetes air dan ketidaktahuan kita bagaikan samuderanya. Setiap kali tetes air itu membesar, maka setiap kali itu pula samudera akan semakin membesar. Boleh jadi generasi−generasi terdahulu telah mengalami kemajuan dalam dunia ilmu pengetahuan dan bisa menyingkap rahasia−rahasia alam ini yang barn, akan tetapi sangat menyedihkan, bahwa kita sekarang ini mesti mengakui keticlaktahuan kita mengenai rahasia wujud ini, misteri kehidupan dan kematian, filsafat penciptaan, dan lain−lain. Begitu pula misteri yang belum terungkap oleh ilmu pengetahuan sekarang ini. Mengapa kita semakin jauh? Sekarang ini, kita tidak mengetahui siapa diri kita sendiri, dan tidak mengetahui keterkaitan antara diri kita dengan alam semesta. Tidak ada yang mengetahui dari mana kita datang clan hendak ke mana kita pergi setelah kita mati. Me¬mang kita tidak mengetahui apa−apa dan terpaksa meletakkan tanda tanya besar dihadapan semua itu..." (Dar Jistajwi Khusybakhte, hlm 221)

Ilmuwan terkenal, Plamarbon mengatakan: "Saya melihat dan berpikir, tetapi apa yang disebut dengan aktivitas berpikir? Tidak seorang pun dapat memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Saya berjalan, dan apakah sebenarnya hakikat perbuatan otot−otot ini? Tidak seorang pun dapat mengetahuinya. Kehendakku adalah kekuatan, tetapi kekuatan yang immaterial. Bahkan semua keistimewaanku yang bersifat ruhani adalah immaterial. Aku dapat mengangkat tanganku kapan pun kuinginkan. Keinginanku itu dapat menggerakkan sisi materi dari bagian tubuh saya. Lalu apakah hakikat peristiwa ini? Lalu apakah yang menjadi perantara antara kekuatan immaterial dan gerakan tubuh yang material ini? Tidak seorang pun dapat memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Katakanlah kepada saya: "Bagaimanakah caranya saraf−saraf penglihatan memindahkan gambar dari luar ke pikiran? Lalu apakah hakikat pikiran itu? Bagaimana hasil itu dapat dicapai? Dan di mana tempatnya? Lalu bagaimanakah cara kerja otak kita? Saya dapat melontarkan pertanyaan seperti itu sampai sepuluh tahun yang akan datang. Tetapi tidak seorang ilmuwan pun yang sanggup memberikan jawaban memuaskan atas pertanyaan−pertanyaan tersebut." (Irthibath Insan va Jahan, hlm. 20−23)

Oliver Lag, seorang ilmuwan Barat terkenal, mengatakan: "Apa yang kita ketahui sungguh sangat sedikit sekali dibandingkan dengan apa yang tidak kita ketahui. Sebagian ilmuwan mengulang−ulang ungkapan tersebut tanpa keyakinan, tetapi saya mengatakannya penuh keyakinan dan keimanan." (Irthibath Insan va Jahan, hlm 23)

Banyak lagi pengakuan−pengakuan lain mengenai kekurangan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Kita menganggap cukup untuk mengutip pernyataan dari para ilmuwan Barat. Kita kutipkan di sini pernyataan dari ilmuwan Timur, Abu Ali ibn Sina yang banyak mengucapkan kata−kata ini menjelang ajalnya: "Kita mati tetapi kita tidak membawa hasil apa−apa kecuali kita mengetahui bahwa kita tidak punya ilmu apa−apa."

Anehnya, kita melihat bahwa di samping pengakuan−pengakuan dari para ilmuwan tersebut, kita juga melihat ilmuwan yang mengeluarkan pernyataan dengan penuh keluguan dan kepolosannya yang sama sekali tidak mempercayai segala sesuatu di alam semesta yang tidak masuk di akal mereka, dan dengan tegas mengingkari segala sesuatu yang tidak bisa mereka buktikan dalam tabung−tabung penelitian, dan laboratorium− laboratorium bedah mereka. 

Dituturkan dari orang bijak, Budzarjamhar, bahwa ada seorang perempuan yang mendatanginya lalu mengajukan pertanyaan kepadanya. Dia menjawabnya tidak tahu. Perempuan itu mengatakan: "Sungguh keterlaluan, sang raja telah memberi Anda sejumlah harta kekayaan setiap bulan, tetapi Anda tidak dapat memberikan pertanyaan yang saya ajukan." Budzarjamhar yang bijak menjawab: "Sesungguhnya sang raja memberikan sejumlah harta ini atas pengetahuan yang kumiliki, dan jika dia hendak memberikan imbalan atas hal−hal yang tidak kuketahui, niscaya dia tidak akan mampu memberikannya meskipun ia memberikan harta kekayaan yang ada di gudangnya."(Al−Kasykul 3: 310)

Bagaimanapun, semua ilmuwan sepakat mengenai keterbatasan ilmu pengetahuan manusia. Dan memang begitulah yang ditegaskan oleh Al− Quran: "...Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS 17:85). Kita mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt memilih para nabi untuk diutus kepada manusia agar menjelaskan kepada mereka jalan kebahagiaan, dan menunjukkan kepada mereka kebaikan, serta menjauhkan mereka dari malapetaka yang timbul di dalam masyarakat manusia karena berbagai sebab. Tindakan seperti itu dilakukan, karena ketidaktahuan umat manusia mengenai detail dan dimensi hal−hal yang membahayakan dan menguntungkannya. Oleh karena itu, manusia akan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kerusakan jika dia menjauhi petunjuk para nabi. Dan begitu pula sebaliknya, mereka akan meraih berbagai mkmat dan kebahagiaan yang hakiki bila mengikuti petunjuk para nabi. Nash−nash berikut ini menegaskan tentang adanya keterkaitan tersebut.

"Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri..." (QS 42:30).

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...." (QS 40:42).

Itulah uraian yang berkaitan dengan pengaruh dosa yang dilakukan oleh manusia. Adapun hal−hal yang ada kaitannya dengan pengaruh amal kebaikan terhadap kebahagiaan manusia, Imam Ja`far Al−Shadiq (sa) berkata: "Orang yang dapat hidup dengan kebaikan yang dilakukannya adalah lebih banyak daripada orang yang hidup karena jatah umurnya." (Bihar Al− Anwar 73: 354) Beliau juga mengatakan: "orang yang hidup dengan kebaikan mereka jumlahnya lebih banyak ketimbang orang yang dapat hidup karena memang iatah umurnya. Dan orang yang mati karena dosanya adalah lebih  banyakdibandingkan dengan orang yang mati karena memang ajalnya sudah tiba." (Biharul Anwar 5:140) 


Bahkan, takdir−takdir kita yang lain pun banyak yang mirip bentuknya dengan hal di atas, yaitu diubahnya takdir kita akibat amal perbuatan yang kita lakukan. Hamran, salah seorang sahabat Imam Muhammad Al−Baqir (sa) pernah mengatakan kepadanya bahwa dia pernah bertanya kepada beliau tentang firman Allah: "Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi satu ajal yang ditentukan yang ada pada sisi−Nya..." (QS 6:2).

Imam Al−Baqir mengatakan: "Yaitu dua ajal. Pertama, aial yang pasti yang telah dijatuhkan temponya (hatmiy) dan ajal yang ditangguhkan." (Ushul Al−Kafi 1: bab Al−Bada') 

Ada juga riwayat−riwayat lain yang mengandung makna yang sama dengan riwayat tersebut, dan juga merupakan penafsiran dari ayat itu, yang berasal dari para imam Ahlul Bayt Nabi saw. Sehubungan dengan masalah ini, banyak sekali kisah yang bersumber dari riwayat−riwayat dari Ahlul bait Nabi saw, yang semuanya dipenuhi dengan pelajaran tentang persoalan ini. (disarikan dari kitab Iqab Adz− Dzunub)

YANG LEBIH OKE ANDA KLIK DISINI